Jumat, 30 Mei 2014

Seberang Ulu Riwayatmu dulu

Hai sobat kemaren-kemaren ada pameran palembang expo di BKB, disalah satu pojok pameran ada yang memperlihatkan foto Palembang tempoe doeloe. Kota Palembang terbelah menjadi 2 kawasan oleh sungai musi yaitu kawasan seberang ulu dan kawasan seberang ilir. Untuk itu dalam rangkuman berikut ini saya konsentrasi dahulu pada daerah kawasan seberang ulu, untuk kawasan seberang ilir akan saya rangkum di lain waktu. Dengan kecanggihan teknologi sekarang saya iseng cari menggunakan pencarian google. Berikut data-data dan gambaran yang saya dapat seperti tersaji dibawah ini :

1. Boom 7 Ulu Palembang

 

 
 

Foto tahun 1947 an
Suasana di lokasi penyebrangan BOOM 7 Ulu Palembang, tampak banyak kendaraan dan poster bioskop "ELITE" juga menghiasi suasana saat itu.Terlihat juga kapal angkut untuk menghubungkan seberang Ulu dengan Seberang Ilir. Kapal yang digunakan adalah jenis kapal marie yaitu jenis kapal roda lambung yang bisa mengangkut banyak penumpang berikut kendaraan baik roda 4 maupun roda 2 (kapal feri nya tempoe doloe). Satu jenis angkutan lain yang digunakan  adala perahu tambangan yang hanya mengangkut perorangan dalam jumlah sedikit. Sekarang Boom ini tidak ada lagi karena menjadi bagian pembangunan Jembatan Ampera

2. Kelenteng 10 Ulu atau Kelenteng Candra Nadi (1933)
Foto Kelenteng Tahun 1947
Kelenteng Keadan Sekarang (2013)
Kelenteng 10 Ulu bernama Tri Dharma Nadi atau dalam bahasa Mandarin disebut Klenteng Soei Goeat Kiang yang merupakan Kelenteng tiga agama (Tri Dharma), ketiga agama dan kepercayaan yang diakomodasi di kelenteng ini adalah Buddha, Tao dan Konghucu. Dahulu keberadaan Kelenteng terdapat di daerah 7 Ulu yang tidak lepas dari keberadaan Kampung Kapitan. Karena Kelenteng yang berada di kawasan 7 Ulu terbakar maka dibangunlah Kelenteng di Kawasan 10 Ulu sebgai gantinya pada tahun 1973.

3. Jembatan Ogan / Jembatan Kertapati (1939)

Lebih Tua Dari Ampera
Foto : Awal-awal setelah pembangunan
 Foto diambil pada tahun 2013
Jembatan yang tidak kalah monumentalnya dengan Jembatan Ampera ini terletak tidak jauh dari stasiun Kertapati, jembatan ini menyeberangi sungai Ogan tepatnya di Muara Ogan. Jembatan ini dibangun pada zaman penjajahan Belanda pada tahun 1939 dan diberi nama dengan Wilhelmina Brug. Pada saat Jepang masuk, Belanda dikabarkan menghancurkan jembatan untuk menghambat pergerakan tentara Jepang. Sempat menggunakan kayu sebagai penyangga, tahun 1956 jembatan tersebut akhirnya kembali dipugar.


4. Rumah makan Pamor
Dahulu dan sampai saat ini setiap naik angkot ataupun bus kota dari kertapati menuju ampera, setiap kali melintasi daerah setelah PLN simpang 4 (simpang 4 plaju, kertapati, jakabaring dan kota) kernet sering menyebut "pamor....pamor....pamor". Usut punya usut ternyata di daerah itu dahulu ada Rumah makan "Pamor" yang sangat terkenal pada era 90-an di mana rumah makan pamor yang menyajikan makanan cukup enak ini terkenal dengan Nasi Amperanya, tetapi menjelang sekitar tahun 98-99 rumah makan ini tutup dan sempat menjadi gudang dan sekarang sudah beroperasi menjadi rumah makan omega jaya.

ex. Rumah makan Pamor


4. Kampung Kapitan
kampung-kapiten-01
Rumah Kampung Kapitan dulu

Tidak dipungkiri Kampung Kapitan merupakan bagian unik dari Kota Palembang dan memiliki nilai-nilai sejarah budaya. Kampung ini terletak di bagian hulu Sungai Musi, tepatnya di kawasan 7 Ulu persis di seberang Benteng Kuto Besak.
Tak  jauh dari jembatan kebanggaan wong kito, Ampera,  yang dibangun pada era Soekarno 50 tahun lalu, dihitung mulai dibangunnya pada 1962. Akses ke kampung tua ini lebih leluasa menggunakan motor atau jalan kaki, tapi jalan kaki merupakan alternatif yang menarik agar kesan wisatanya begitu terasa. Kampung Kapitan awalnya dihuni keluarga besar dari Tjoa Ham Him menurutnya  telah ada sekitar tahun 1805 Masehi dan kampung ini telah berumur 2,5 abad lebih. Bisa dikatakan Tjoa Ham Him leluhur sebagian orang Tionghoa yang telah menetap di Kota Palembang.berasal dari suku Provinsi Hok Kian Kabupaten Ching Chow. Dijelaskannya pada awalnya ia datang pertama kali ke Palembang membawa keluarganya beserta jajarannya, tukang masak, anak buah, dayang-dayangnya,  dan diperkirakan mencapai hingga ratusan orang mendatangi tempat ini tapi sekarang telah menyebar ke berbagai daerah. Sedangkan sekarang Kampung Kapitan sendiri hanya tinggal belasan Kepala Keluarga (KK).

Kampung Kapitan Sekarang (2013)

5. Kolam Komperta Plaju
Tampak Pintu Masuk Kolam Renang di Komplek Pertamina Plaju 1940-1955
Tampak Pintu Masuk Kolam Renang di Komplek Pertamina (2012)
Toms Pro 2014

Daftar Pustaka : dirangkum dari berbagai sumber
Artikel Terkait

0 komentar:

Posting Komentar